RSS

BULLYING PADA INSTITUSI PENDIDIKAN DITINJAU DARI SUDUT PANDANG HUKUM

17 Okt

Apa itu Bullying?

Bullying merupakan suatu aksi atau serangkaian aksi negatif yang seringkali agresif dan manipulatif, dilakukan oleh satu atau lebih orang terhadap orang lain atau beberapa orang selama kurun waktu tertentu, bermuatan kekerasan, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Pelaku biasanya mencuri-curi kesempatan dalam melakukan aksinya, dan bermaksud membuat orang lain merasa tidak nyaman/terganggu, sedangkan korban biasanya juga menyadari bahwa aksi ini akan berulang menimpanya.

Kata  bullying familiar dalam bahasa Inggris (etimologi dari kata bully barangkali berasal dari kata Middle Dutch, boele yang bermakna first sweetheart, kemudian  fine fellow, kemudian  blusterer:  Encarta World English Dictionary, 1999). Konsep ini familiar di Scandinavia dan Jerman melalui kata bermakna sama, mobbning (Swedia), sedangkan bullismo seringkali digunakan di Italia. Di samping itu, beberapa pendapat menyatakan bullying berasal dari kata bull yang berarti sapi jantan sebagai lambang kekuatan, ada pula yang menyatakan  bullmengacu pada hubungan pertemanan atau teman sebaya. Terlepas dari beragam pendapat tersebut, hubungan pelaku dan korban  bullying biasanya merupakan hubungan sejawat atau teman sebaya, misalnya teman sekelas, kakak kelas dan adik kelas, senior dan yunior, atau rekan kerja, sehingga sebenarnya bullying tidak saja berkemungkinan terjadi di sekolah atau rumah, namun juga berpeluang terjadi di tempat kerja, juga penjara. Pelaku dan korban pun biasanya saling mengenal, pada mulanya bukan ‘musuh’, dan kekuatan pelaku jauh lebih besar daripada korban, sehingga korban dalam posisi tak berdaya.  Bullying dengan  setting sekolah dapat terjadi di kelas, misalnya yang terjadi pada anak sekolah dasar, korban tidak akan diajak bermain kalau tidak menyerahkan uang saku dalam jumlah tertentu setiap harinya. Bullying sering pula terjadi di kamar mandi, kantin, halaman sekolah, atau perjalanan dari dan ke sekolah. Kekerasan ini dapat dilakukan pada saat jam pelajaran di kelas, istirahat, jam ekstrakurikuler, orientasi sekolah bagi siswa baru, bahkan ada pula yang terjadi pada saat study tour.

Mengapa timbul kecenderungan melakukan bullying pada Institusi Pendidikan?

Apabila ditinjau lebih jauh mengenai penyebab dari timbulnya bullying adalah karena adanya suatu siklus yang kerap terjadi diantara para siswa, yang terus berlangsung secara turun-temurun. Adapun perlakuan Bullying tersebut menimbulkan kesan buruk bagi para siswa yang mengalaminya, dan cenderung menimbulkan dendam, sehingga akan terus dilakukan kepada junior-junior nya sebagai bentuk balas dendam terhadap kesan buruk yang diterima siswa tersebut ketika dahulu mendapatkan perlakuan bullying dari senior-seniornya.

Tanya :  Kalau kalian sudah kelas 3 nanti, mungkin ga kalian bakal seperti senior kalian sekarang ?

Jawab  : Tergantung, tergantung sama ade kelasnya juga, kalau ade kelasnya nyolot ya pasti bakal  gw marahin!

Percakapan diatas kerap terjadi di kalangan siswa yang merasa tertekan oleh perilaku seniornya, sehingga menimbulkan dendam yang kemudian akan dibalaskan kepada juniornya kelak. Institusi Pendidikan sendiri menduduki peringkat kedua setelah kekerasan di rumah, yakni sekitar 25% dari semua kasus-kasus kekerasan yang dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Bullyingyang terjadi didominasi didalam institusi pendidikan didominasi oleh kekerasan psikis. Hal ini dibuktikan dengan data dari Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak yang disajikan pada tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1. Tempat Terjadinya Bullying

Kekerasan (Bullying)

Jumlah Kasus

Persentase

Di Sekolah

226

54,20%

Di Luar Sekolah

191

45,80%

Total

417

100%

Sumber : Komnas Perlindungan Anak, 2007

Tabel 2. Bentuk bullying

Kekerasan (Bullying)

Jumlah Kasus

Persentasi

Kekerasan Fisik

89

21,34%

Kekerasan Seksual

118

28.30%

Kekerasan Psikis

210

50,36%

Total

417

100%

Sumber : Komnas Perlindungan Anak, 2007

 

Apa saja jenis-jenis bullying?

Mengapa seorang korban kemudian bisa menerima, bahkan menyetujui perspektif pelaku yang pernah merugikannya dalam bentuk Bullying tersebut? Salah satu alasannya dapat disebabkan karena sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka (tindakan Bullying yang dilakukan terhadap korban akan semakin menjadi-jadi). Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ Bullyingyang didapat dari seniornya. korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan Bullying karena :

Tradisi

–          Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)

–     Ingin menunjukkan kekuasaan

–     Marah karena korban tidak berperilaku dengan yang diharapkan

–     Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)

–    Iri hati (menurut korban perempuan)

 

Apakah Bullying Melanggar Hukum?

Apabila kita melihat dari Perspektif Hukum, sudah sangatlah jelas bahwa Bullying melanggar Hukum dan terhadap tindakan Bullying dapat dikenakan Sanksi Pidana, didalam tabel berikut akan dijabarkan mengenai hukuman yang dapat dikenakan terhadap pelaku Bullying beserta Delik nya :

Bentuk Bullying

Jenis Delik

Aturan Hukum Terkait

Ancaman Hukuman

Fisik

Perampasan Kemerdekaan

Pasal 333 KUHP

8-12 Tahun Penjara

Penganiayaan

Pasal 351 KUHP

5 Tahun Penjara

Penyerangan Dengan Tenaga Bersama Terhadap Orang Atau Barang

Pasal 170 KUHP

5-12 Tahun Penjara

Pemerasan

Pasal 368 KUHP

9 Tahun Penjara

Menjual/Memberikan Minuman Memabukkan

Pasal 300 KUHP

1-9 Tahun Penjara

Memaksa Orang Melakukan/Membiarkan Perbuatan Cabul

Pasal 289 KUHP

9 Tahun Penjara

Verbal & Psikologis

Pengancaman

Pasal 369 KUHP

4 Tahun Penjara

Perbuatan Tidak Menyenangkan

Pasal 335 KUHP

1 Tahun Penjara

Pengancaman Di Muka Umum Dilakukan Bersama

Pasal 336 KUHP

2-5 Tahun Penjara

Terhadap ketentuan pidana diatas diatur didalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)  yang dapat ditindak sewaktu-waktu ketika Bullying terjadi. Selain terhadap sanksi hukum  diatas yang dapat dikenakan terhadap pelaku Bullying, anak yang berada dalam bangku sekolah dilindungi  secara khusus didalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yaitu :

Pasal 54

Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembagapendidikan lainnya.

Dengan ketentuan pidana sebagai berikut :

Pasal 80

1. Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

2. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

4. Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat(2), dan ayat(3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.

Bagaimanakah Pencegahan Terhadap Bullying?

Pada dasarnya Bullying pada institusi pendidikan dapat dicegah, hanya saja terhadap hal tersebut dibutuhkan kerja sama diantara para pihak, dalam hal ini terutama antara pihak keluarga batih dari pelajar serta pihak pengelola institusi pendidikan. Sedini mungkin setiap celah kecil dari dimungkinkannya tindakan Bullying terjadi harus dicegah, agar siklus Bullying yang dikhawatirkan akan berlangsung secara turun temurun tidak terjadi. Baik pihak keluarga maupun pihak pengelola institusi pendidikan harus sadar betul peran mereka dan secara total menjaga agar tindakan Bullying tidak terjadi, mengapa demikian? Dengan adanya pembiaran-pembiaran yang dianggap biasa oleh sebagian pihak (dianggap sebagai kenakalan remaja secara umum), maka pada akhirnya akan mengacu kepada “Legalisasi Bullying”.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Oktober 2013 in hukum, pendidikan

 

2 responses to “BULLYING PADA INSTITUSI PENDIDIKAN DITINJAU DARI SUDUT PANDANG HUKUM

  1. Noer Sary Alhannan

    26 Maret 2014 at 20:51

    Thanks pak…..

     
  2. Noer Sary Alhannan

    26 Maret 2014 at 21:00

    Syukron Katsiron pak…. akan saya pelajari

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: